🦛 Silsilah Kh Abdullah Faqih Langitan
Iadidampingi pamannya, KH Ahmad Marzuki Zahid. Ponpes Langitan sendiri didirikan 1852 oleh KH Muhammad Nur asal Tayuban, Rembang, Jawa Tengah. Saat dipimpin KH Faqih ponpes lebih terbuka, termasuk mengembangkan ilmu komputer, tetapi tetap mempertahankan salafiyah. Saat ini di Ponpes Langitan ada sekitar 3.000 santri.
KHAnwar Zahid mulai menuntut ilmu agama pertama kali pada akhir tahun 1998 di pondok pesantren Langitan Tuban asuhan KH 'Abdullah Faqih. Dimasa mudanya ia habiskan untuk mengaji ilmu agama baik itu ilmu Fiqih, tasawuf maupun ilmu Al-Qur'an.
sTTMo. Silsilah KH Abdullah Faqih Langitan adalah salah satu silsilah pondok pesantren Langitan yang terkenal di Jawa Timur. Pondok pesantren ini terletak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. KH Abdullah Faqih Langitan merupakan tokoh agama yang sangat terkenal dan dihormati di seluruh Indonesia. Asal Usul KH Abdullah Faqih Langitan KH Abdullah Faqih Langitan lahir di Langitan pada tanggal 22 Juni 1910. Beliau adalah putra dari KH Abdulloh bin Husain bin Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdulloh bin Ali bin Abdulloh bin Husain bin Ali bin Abdulloh bin Muhammad bin Ali bin Abdulloh bin Ahmad bin Abdulloh bin Ali bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. KH Abdullah Faqih Langitan merupakan keturunan dari Rasulullah SAW melalui garis keturunan dari Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, beliau sangat dihormati oleh umat Islam di seluruh dunia. Pendidikan dan Karya KH Abdullah Faqih Langitan KH Abdullah Faqih Langitan mendapatkan pendidikan di pondok pesantren Langitan sejak usia dini. Beliau belajar agama Islam dari beberapa guru terkenal seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, dan KH Bisri Syansuri. Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren Langitan, KH Abdullah Faqih Langitan menjadi seorang guru di pondok pesantren tersebut. KH Abdullah Faqih Langitan banyak menghasilkan karya-karya yang sangat bermanfaat bagi umat Islam. Beberapa karya beliau antara lain adalah kitab Taqribul Ushul, kitab Al Hikam, dan kitab Al Muwafaqat. Selain itu, beliau juga banyak mengajar dan memberikan ceramah di berbagai daerah di Indonesia. Pengaruh KH Abdullah Faqih Langitan KH Abdullah Faqih Langitan merupakan tokoh agama yang sangat berpengaruh di Indonesia. Beliau banyak memberikan pengaruh positif bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Beberapa pengaruh beliau antara lain Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia Menjadi salah satu tokoh NU yang sangat dihormati Menjadi salah satu ulama besar di Jawa Timur Mendirikan pondok pesantren Langitan Menjadi panutan bagi masyarakat di seluruh Indonesia Kesimpulan Silsilah KH Abdullah Faqih Langitan merupakan salah satu silsilah pondok pesantren Langitan yang terkenal di Jawa Timur. Beliau adalah tokoh agama yang sangat terkenal dan dihormati di seluruh Indonesia. KH Abdullah Faqih Langitan banyak menghasilkan karya-karya yang sangat bermanfaat bagi umat Islam dan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat di seluruh Indonesia. 2020-04-22
Foto Nama Lengkap Abdullah Faqih Alias Kyai Khos Profesi Tokoh Agama Agama Islam Tempat Lahir Mandungan, Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Tanggal Lahir Senin, 2 Mei 1932 Zodiac Taurus Warga Negara Indonesia Istri Nyai KhunainahAnak Ubaidillah, Muhammad, Mujib, Hanifah, Mujab, Ma'shum, Abdullah, Abdurrahman, Amirah BIOGRAFI Nama besar KH Abdullah Faqih sangat dikenal di kalangan pesantren Indonesia. Putra dari KH Rofi'i Zahid ini pernah mondok di pesantren al-Hidayat, Lasem, sekitar tahun 1950-an setelah sejak kecil lebih banyak belajar kepada ayahnya sendiri di Pesantren Langitan. Selengkapnya Berita Selengkapnya Foto Selengkapnya
Biografi KH. Abdullah Faqih, Sang Kiai Langitan Abdullah Faqih lahir di Widang, Tuban, 2 Mei 1932 – wafat di Widang, Tuban, 29 Februari 2012 pada umur 79 tahun adalah seorang kiai atau Ulama yang berpengaruh serta pengasuh Pondok Pesantren Langitan. Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan Desa Widang, Tuban. Saat kecil ia lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi’i Zahid, di Pesantren Langitan. Ketika besar ia nyantri pada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tapi tidak lama. Sebagaimana para kiai tempo dulu, Faqih juga pernah tinggal di Makkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Rupanya selama di Arab Saudi Faqih punya hubungan khusus dengan Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Buktinya, setiap kali tokoh yang amat dihormati kalangan kiai di NU itu berkunjung ke Indonesia, selalu mampir ke Pesantren Langitan. “Sudah 5 kali Sayid Muhammad ke sini,” tambah salah seorang pengurus Langitan. Pesantren Langitan memang termasuk pesantren tua di Jawa Timur. Didirikan l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang, Langitan dikenal sebagai pesantren ilmu alat. Para generasi pertama NU pernah belajar di pesantren yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang dekat Babat Lamongan ini. Antara lain KH Muhammad Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin ayahnya KH As’ad Syamsul Arifin, dan KH Shiddiq ayahnya KH Ahmad Shiddiq. Kiai Faqih generasi kelima memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya. Di mata para santrinya, Kiai Faqih adalah tokoh yang sederhana, istiqomah dan alim. Ia tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah. Demikian pula dalam hal kebersihan. “Tak jarang beliau mencincingkan sarungnya, membersihkan sendiri daun jambu di halaman,” tutur Choirie yang pernah menjadi santri Langitan selama 7 tahun. Meski tetap mempertahankan ke-salaf-annya, pada era Kiai Faqih inilah Pesantren Langitan lebih terbuka. Misalnya, ia mendirikan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan Taman Kanak-Kanak TK dan Taman Pendidikan Al-Qur’an TPA. Dalam hal penggalian dana, ia membentuk Badan Usaha Milik Pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel. Lebih dari itu lagi, ayah 12 orang anak buah perkawinannya dengan Hj Hunainah ini juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat. Di antaranya ia mengirim da’i ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Setiap Jum’at ia juga menginstruksikan para santrinya shalat Jum’at di kampung-kampung. Lalu membuka pengajian umum di pesantren yang diikuti masyarakat luas. Dalam hubungan dengan pemerintah Orde Baru, Kiai Faqih sangat hati-hati. Meski tetap menjaga hubungan baik, ia tidak mau terlalu dekat dengan penguasa, apalagi menengadahkan tangan minta bantuan, sekalipun untuk kepentingan pesantrennya. Bahkan, tak jarang, ia menolak bantuan pejabat atau siapapun, bila ia melihat di balik bantuan itu ada `maunya’. Mungkin, karena inilah perkembangan pembangunan fisik Langitan termasuk biasa-biasa saja. Moeslimin Nasoetion, saat menjabat Menteri Kehutanan dan Perkebunan dan berkunjung ke Langitan pernah berucap, “Saya heran melihat sosok Kiai Abdullah Faqih. Kenapa tidak mau membangun rumah dan pondoknya? Padahal, jika mau, tidak sedikit yang mau memberikan sumbangan.” Tetapi bila terpaksa menerima, ini masih kata Effendy Choirie, bantuan itu akan dimanfaatkan fasilitas umum di mana masyarakat juga turut menikmatinya. Kiai Faqih, kata Choirie, juga tak pernah mengundang para pejabat bila pesantrennya atau dirinya punya hajat. “Tetapi kalau didatangi, beliau akan menerima dengan tangan terbuka,” tambah Choirie yang pernah menggeluti profesi wartawan ini. Di mata anggota DPR ini, Kiai Faqih adalah sosok yang berpikir jernih dan sangat hati-hati dalam setiap hendak melangkah atau mengambil keputusan. Pernah pada suatu kesempatan, Gus Dur ingin sowan menghadap ke Langitan. Demi menghindari munculnya spekulasi yang macam-macam, apalagi saat itu menjelang pemilihan presiden, Kiai Faqih menolak. Justru dialah yang menemui Gus Dur di Jombang, saat Gus Dur berziarah ke makam kakeknya.
silsilah kh abdullah faqih langitan